
Saya sudah tidak memiliki keluarga, sudah tidak ada yang mengurus. Meskipun tidak ada keluarga, setidaknya saya ingin dibawa berobat walau cuma satu kali… saya sudah tidak tahan merasakan sakitnya, lirih Kakek Indrayup dengan suara bergetar.
Di sebuah sudut yang sunyi, di dalam gubuk reyot yang nyaris runtuh, seorang lansia bersimpuh menahan nyeri yang tak tertahankan. Namanya Kakek Indrayup. Tidak ada sanak saudara, tidak ada pula suara hangat keluarga yang menyapa. Hidupnya kini hanya ditemani kesunyian dan aroma darah dari luka yang terus menganga di wajahnya.
Sudah lima tahun lamanya, sebuah tumor ganas tumbuh tepat di bawah matanya. Luka itu kian hari kian memburuk, membengkak, dan sering mengeluarkan darah segar.

Meski tubuhnya digerogoti penyakit, Kakek Indrayup menolak untuk menyerah pada rasa lapar. Saat rasa sakitnya menyerang secara hebat, beliau hanya mampu mengompres wajahnya dengan dedaunan seadanya, satu-satunya obat yang dapat ia peroleh dari alam.
Demi menyambung hidup, setiap hari Kakek Indrayup memaksakan kakinya yang renta untuk menuju padang rumput. Beliau mencabuti rumput untuk pakan sapi milik orang lain. Upahnya bukanlah lembaran uang. Bagi Kakek, sepiring nasi untuk mengganjal perut hari ini sudah merupakan berkah yang luar biasa. Baginya, makan bukan sekadar kebutuhan, melainkan sebuah perjuangan hidup dan mati.
Uluran tangan kita bisa menjadi satu-satunya harapan bagi Kakek Indrayup.
Terima kasih, #OrangBaik
![]()
Belum ada Fundraiser